Latest Post

Fujifilm Perkenalkan X-T30, Ini Spesifikasi dan Harganya




Fujifilm memperkenalkan kamera mirrorless baru seri X, yaitu X-T30 di Indonesia. Kamera ini menjanjikan bodi lebih ringan dan lensa beresolusi 26,1MP.

Dalam keterangan pers yang diterima media pers, Februari 2019, salah satu andalan dari X-T30 adalah bodi yang makin enteng dan ringkas dengan bobot 383 gram untuk meningkatkan stabilitas saat  dipegang.
Fujifilm mengganti selector button dengan focus lever untuk menyediakan ruang pegangan tambahan di bodi belakang.
Fujifilm juga merancang monitor LCD di kamera ini lebih tipis, yaitu 1,3 milimeter dan menawarkan respons layar sentuh yang lebih baik.
X-T30 memiliki ISO terendah 160, yang sebelumnya hanya tersedia sebagai ISO tambahan, sekarang sudah ada saat memotret RAW. Kamera tersebut menggunakan mesin X-Processor 4 serta peningkatan algoritma AF untuk mempertinggi akurasi dalam deteksi wajah atau mata.
Fujifilm memperkenalkan fungsi face select untuk memberikan prioritas fokus otomatis pada wajah yang dipilih ketika beberapa wajah telah terdeteksi dalam bingkai.
Selain itu, mereka juga meningkatkan kinerja mode  advanced SR auto dan auto focus sehingga kamera secara otomatis memilih pengaturan yang optimal dari 58 preset.
X-T30 dapat merekam video 4K (resolusi 3810 x 2160) dan 6K (6240 x 3510). Kamera ini juga mendukung format DCI (17:9) untuk memberi tampilan sinematis pada video.
Di Indonesia, Fujifilm X-T30 dijual di kisaran harga Rp13.000.000 dan tersedia mulai akhir Maret 2019.


Sumber : tempo.co
 

Ini Alasan Fujifilm X-A10 Menang Dibanding Mirrorless ‘Hemat’ Lainnya



Ingin memiliki mirrorless Fujifilm tanpa menguras kantong? Pilihan bisa dijatuhkan pada seri X-A10. Tapi bukan itu semata-mata kenapa jagoan baru Fujifilm di mirrorless entry-level ini layak dilirik bagi yang berkantong tipis lho.
Dengan harga sekitar Rp 6 jutaan saja, Fujifilm X-A10 bisa dibilang lebih unggul dari mirrorless hemat lainnya yang sudah lebih dulu populer di pasaran, sebut saja Sony A5000 dan Canon EOS M10.
Apa saja keunggulan rilisan mirrorless Fujifilm pada 2017 ini?

Spesifikasi Fujifilm X-A10

  • 16 megapixel APS-C CMOS sensor
  • Fujifilm X-Mount
  • 3inch tilting screen, 1040K dots
  • 49 AF Auto-Focus points
  • 6fps continuous shooting speed
  • FullHD video, up to 30fps, with stereo sound, Up to 60fps for HD
  • ISO100 to ISO25600
  • Electronic shutter 1/32000s
  • Built-in pop-up flash
  • Wi-Fi built-in
Fujifilm X-A10 terasa enak dipegang, dilihat pun terasa premiun dengan cover kulit yang membungkus bodinya. Secara keseluruhan bodinya terbuat dari plastik, tapi bagian paling atas berisi tombol terbuat dari metal jadi terasa mantab saat dioperasikan.
Handgrip di bagian depan kamera rilisan 2017 ini memungkinkan untuk dipegang dengan nyaman, bahkan di bagian belakang ada bahan karet untuk jempol jadi tidak licin. Jika Anda tipe tangan berkeringat sebaiknya tetap kalungkan strap kamera ke leher.
Layarnya sendiri juga jernih dan terang dengan warna yang bagus. Selain itu screen bisa dimiringkan sehingga Anda leluasa mencari angle terbaik. Ini sangat membantu saat memotret di outdoor saat siang hari yang terik.

Gambar: hasil jepretan Fujifilm X-A10


Sumber www.plazakamera.com
 

Membuat foto levitasi tanpa editing

Apa itu levitasi? Levitasi adalah teknik fotografi yang membuat sesuatu atau seseorang tampak seolah-olah Melayang tanpa menggunakan alat bantu. Foto levitasi tanpa editing dilakukan oleh model yang melompat dan berpose sehingga seolah-olah ia tampak melayang. Berbeda dengan teknik jump shot dimana objek memang terlihat melompat bukan melayang.






Foto levitasi bisa dihasilkan dengan 2 cara: Tanpa dan dengan editing(Trik Photoshop)
Foto levitasi tanpa editing dilakukan oleh model yang melompat dan membuat pose seolah-olah ia tampak melayang.

Tips membuat foto levitasi tanpa editing:

  • Fotografi levitasi berbeda dengan Jump Shot. Levitasi harus memperlihatkan model yang seakan melayang alami tanpa beban dan tanpa terlalu banyak ekspresi wajah.
  • Foto levitasi tanpa editing dapat dilakukan dengan kamera professional (DSLR) maupun kamera biasa (kamera ponsel, pocket cam)
  • Foto levitasi dengan kamera DSLR, bisa memanfaatkan Burst Mode (Continuous Shooting). Dengan sekali menekan tombol shutter, langsung menghasilkan beberapa jepretan sekaligus. Foto-foto hasil jepretan dengan Burst Mode dari kamera DSLR dapat dipilih mana yang paling pas mendapatkan moment “melayang”
  • Foto levitasi dapat dilakukan dengan kamera non-professional, namun lebih tricky karena mengandalkan ketepatan menekan tombol rana saat model melompat.
  • Pastikan cahaya cukup, agar bayangan terbentuk sehingga efek model sedang melayang lebih terlihat.
  • Gunakan shutter speed tinggi untuk menangkap model yg melayang dengan lebih fokus (freeze motion). Cahaya yang cukup sangat berperan untuk mendapatkan shutter speed tinggi. Shutter Speed di atas 1/500 lebih baik.
  • Gunakan low angle, agar model terlihat tinggi melayang.
  • Kamu bisa menggunakan hair spray/gel agar saat melompat, rambut model tidak terlihat berantakan. Bisa juga rambut diikat, memakai bando, atau topi.
  • Gunakan juga peniti, pin, sabuk, double tape atau alat penjepit baju supaya tidak tidak tampak menggembung atau tersingkap saat model melompat.
  • Coba gunakan aksesoris yang mendukung. Umumnya sih sapu, vacum cleaner, payung. Ayo coba yang lain!
  • Cari lokasi foto yang unik.
  • Bisakah memfoto diri sendiri sedang levitasi? Bisa! Gunakan Tripod, dan set timer di kamera. Loncatlah sebanyak mungkin saat mendekati waktu timer! Ini tapi pakai untung-untungan ya!
  • Stay safe! Jangan memaksakan diri melompat jika sudah capek & cari lokasi yang aman buat melompat.
Berikut beberapa foto-foto levitasi karya Natsumi.

Foto levitasi : NatsumiMembuat foto levitasi tanpa editing

Foto levitasi : NatsumiMembuat foto levitasi tanpa editing

Foto levitasi : NatsumiMembuat foto levitasi tanpa editing

Untuk lebih banyak lagi Foto levitasi karya Natsumi silahkan mampir ke www.yowayowacamera.com
Fotografi levitasi dengan editing, dilakukan dengan alat bantu berupa meja, kursi dan lain-lain. Model berpose melayang diatasnya, kemudian alat bantu tersebut dihilangkan dengan software seperti Photoshop, Gimp dll.

sumber
 

Panduan lensa Tamron untuk kamera DSLR 2013

Tamron juga sudah lama terkenal sebagai pembuat lensa pihak ketiga untuk berbagai kamera DSLR baik Canon, Nikon, Sony dan sebagainya. Beberapa tahun yang lalu, reputasi Tamron agak payah karena kualitas autofokusnya pelan dan macet kalau sudah kondisi cahaya gelap. Tapi beberapa tahun terakhir Tamron akhirnya sudah memakai teknologi motor autofokus yang lebih bagus sehingga kualitas autofokusnya bisa dibilang sudah bagus. Lensa dengan teknologi motor baru ini memiliki kode USD (ultra sonic motor).
Beberapa dibawah ini adalah lensa-lensa Tamron yang saya rekomendasikan beserta kisaran harga dan kegunaannya. Tentunya harga akan berubah-ubah seiring dengan waktu berjalan.
Lensa Tamron untuk penggemar fotografi dengan kamera bersensor APS-C (lensa Tamron Di II)
  • Tamron 18-270mm PZD f/3.5-6.5 VC Lensa sapujagat yang praktis untuk yang memang gak mau repot-repot ganti lensa lebar dan telefoto. Kualitasnya mulai menurun saat memakai jarak fokus yang panjang dan kecepatan autofokusnya lambat. Tapi cocoklah untuk jalan-jalan selama liburan. Harga Rp. 4.000.000
  • Tamron 17-50mm f/2.8 VC Lensa medium zoom yang praktis dan berbukaan besar. Cocok untuk motret acara diluar dan didalam ruangan. Harga tidak begitu mahal, tapi sayangnya motor autofokusnya masih tipe lama. Pertimbangkan juga Sigma 17-50mm f/2.8 OS HSM. Harga Rp. 4.220.000
  • Tamron 60mm f/2 Macro Lensa makro untuk close-up subjek foto yang berukuran kecil. Bagus untuk fotografi produk, serangga dan sejenisnya. Uniknya, lensa ini berukuran sangat besar, yaitu f/2. Lensa makro pada umumnya biasanya berbukaan maksimal f/2.8. Meski demikian, bukaan maksimum akan berkurang seiring Anda mendekatkan lensa ke subjek. Jadi f/2 hanya berlaku saat subjek foto berada cukup jauh dari lensa. Harga Rp. 5.200.000
Lensa Tamron untuk penggemar fotografi dengan kamera bersensor full frame
Tentunya kalau Anda memiliki kamera bersensor APS-C cocok juga untuk memakai lensa Tamron Di (yang diameternya mencakup sensor full frame) Tapi tentunya subjek yang jauh akan terlihat lebih besar dan pandangan akan sedikit lebih sempit karena ada faktor kropnya.
Tamron 24-70mm f/2.8 VC lensa unik andalan Tamron untuk kelas profesional
  • Tamron 24-70mm f/2.8 VC USD Lensa medium zoom yang berkualitas tinggi dan menjadi pesaing berat lensa-lensa Canon dan Nikon. Uniknya, lensa ini juga memiliki peredam getar (VC) yang tidak dimiliki oleh pesaing-pesaingnya sampai saat ini. Harga Rp. 10.750.000
  • Tamron 70-300mm f/3.5-5.6 VC USD Lensa telefoto Tamron pertama yang mengunakan teknologi USD (ultrasonic drive) sehingga autofokusnya lebih senyap dan cepat. Lensa ini juga tidak terlalu besar tapi bukaannya relatif kecil. Cocok untuk motret di luar ruangan saat cahaya lingkungan banyak. Harga: Rp. 3.900.000
  • Tamron 70-200mm f/2.8 VC USD Seperti 24-70mm, ini lensa telefoto tingkat profesional yang sudah diperbaharui dengan motor fokus yang cepat dan ada fitur anti getarnya juga. Harga Rp. 13.120.000
  • Tamron 90mm f/2.8 Macro Lensa makro yang cukup populer dikalangan penggemar fotografi karena kualitas fotonya sangat tajam tapi harganya relatif murah. Hal ini disebabkan karena tidak ada peredam getar dan motor autofokus ultrasonic. Harga Rp. 3.740.000   



sumber
 

Membuat suasana tambah dingin dengan WB dan split toning

Kita dapat membuat suasana foto menjadi hangat atau dingin dengan mengunakan warna. Warna kuning, orange, merah tergolong warna hangat, sebaliknya warna dingin terdiri dari warna biru dan hijau. 

Sebenarnya, secara alami hasil foto sudah terlihat dingin dan misterius karena unsur warna hijau, tapi bisa dibuat lebih dingin lagi dengan menambahkan warna biru. 

Untuk menambahkan warna biru, saya mengatur White Balance ke 3000K 
( bisa mengubah temperatur WB karena saya memotret dengan format RAW) dan kemudian mengaktifkan split toning yang warna highlight (bagian terang) dan shadow (bagian gelap)  set warna biru kemudian menaikkan saturasinya dengan hati-hati.

Oke, bagaimana kalau tidak memiliki software dan tidak punya waktu untuk mengolah foto. Cara yang paling mendekati adalah set WB ke simbol gambar lampu bohlam (tungsten/incandescent) dan di bagian picture control/picture style, ubahlah setting color tone ke arah +4. Semakin positif nilainya, semakin dominan warna hijau (dingin).
Sip, tidak sampai lima menit tapi suasana foto yang saya inginkan dapat tercapai.
Foto kiri adalah foto aslinya, eksposurnya agak gelap karena lupa meningkatkan kompensasi eksposur ke +1 atau membuat foto lebih terang. Kabut tebal yang reflektif mengecoh metering kamera.
Masuknya figur orang yang kecil memberikan kesan skala pada foto ini. Yang sebelah kiri terlihat sejuk dan dingin, setelah diolah, menjadi lebih dingin lagi dan agak seram.
Split Toning
 

7 Macam Objek Yang Terlalu Sering Difoto


Dari daftar di bawah ini, kamu pasti punya semuanya. Terutama yang sudah cukup lama belajar fotografi. Objek-objek ini sangat, bahkan terlalu, umum dijadikan ‘model’ untuk fotografi, yang akhirnya jadi membosankan dan biasa karena berulang-ulang muncul. Hal semacam ini dikenal dengan foto-foto klise. Tentunya keindahan sebuah foto – sekali lagi – sangat relatif, sangat subjektif. Tapi, untuk seorang fotografer yang ingin berkembang, kebiasaan memotret objek-objek yang sangat umum ini harus dikurangi atau diganti sudut pandangnya. Kenapa? Supaya bisa belajar lebih banyak. Bunga mawar bisa muncul dalam banyak sekali sisi, tergantung fotografernya. Kalau kamu masih terbiasa memotret kelopaknya tepat di tengah dari atas, sekarang lah saatnya kamu bergerak, lebih kreatif mencari cara memotret yang lebih baik.

1. Bunga

day 4 - balanced
Hampir semua orang suka bunga. Cantik dan mudah difoto karena tidak bergerak kemana-mana. Tapi, ada komposisi yang sangat umum : meletakkan bunga tepat di tengah frame dan difoto dari atas. Ketika kamu melihat foto semacam ini, kamu akan dengan mudah melewatkan dan melupakannya karena tidak ada yang istimewa. Tidak menarik. Biasa. Kalau kamu jadi fotografernya, tentu kamu tidak mau membuat foto yang bisa dibuat semua orang kan? Jadi, berpikirlah kreatif. Pikirkan tentang warna, pencahayaan, detil, sudut, komposisi, dan munculkan cirimu sebagai pribadi di dalam foto bunga itu.

2. Hewan peliharaan

pet
Tentunya karena hewan peliharaan atau yang jinak-jinak cenderung mudah difoto. Bandingkan dengan hewan liar. Kalau kamu menyimpannya untuk koleksi pribadi, oke lah, kamu bisa memotret sebanyak mungkin dengan pose yang begitu-begitu saja. Kamu tetap akan mengganggapnya lucu dan menggemaskan. Tapi mulailah berpikir lebih besar kalau kamu akan memperlihatkannya pada orang lain. Fotolah kucingmu ketika sedang melompat, atau ketika anjingmu sedang mengibaskan air dari bulunya setelah dimandikan. Pilih momen-momen istimewa yang mungkin butuh waktu lama sebelum kamu bisa dapatkan lagi. Hanya karena kamu memotret hewan peliharaan atau yang jinak, bukan berarti jadi membosankan.

3. HDR palsu

Canals fake HDR
Ini adalah jenis HDR yang dibuat melalui aplikasi instan. Hasilnya biasanya oversaturated dan tidak nyaman dipandang. Kalau kamu mau belajar, membuat HDR asli bisa dengan cepat kamu kuasai. Hasilnya pun jauh lebih baik daripada yang palsu. Luangkan waktu untuk menikmati foto-foto HDR yang sebenarnya supaya kamu terbiasa dan akhirnya tidak mau lagi membuat HDR palsu.

4. Lens blur palsu

Sama alasannya dengan poin tiga, kamu akan dengan mudah bisa mengenali jenis foto yang depth of field-nya buatan. Background yang blur memang menarik, tapi kalau kamu sudah tahu tekniknya, jangan buat yang palsu lagi. Terapkan teknik shallow DoF yang benar. Buka aperture lebar, beri jarak objek dari background, naikkan focal length. Biasakan matamu melihat dimensi. Tapi, lens blur buatan ini akan bagus bila diterapkan untuk efek tilt-shift.

5. Serangga

Fotografi macro sangat menggoda. Menghadirkan objek-objek kecil dalam ukuran besar tentu membuat semua fotografer ingin mencoba. Sayangnya, sama seperti bunga, foto serangga jadi terlalu umum karena komposisi yang begitu-begitu saja. Memang, bila kamu hanya dipersenjatai lens kit, akan ada banyak keterbatasan dalam membuat foto makro, berbeda dengan bila kamu memang punya lensa makro sebenarnya. Tapi – sekali lagi – bukan berarti jadi membosankan. Bersabarlah. Cari serangga yang tidak biasa, Manfaatkan background yang benar. Buat foto seranggamu ‘muncul’ dan bukannya yang hanya akan dilihat sepintas lalu. Foto yang bagus butuh usaha.

6. Makanan

Hot &Tasty Thai food
Internet banjir foto makanan. Teman saya bahkan bilang melihat orang yang langsung makan begitu pesanannya datang dan bukannya memotret dulu sama seperti melihat Unicorn; ajaib. Saya juga melakukannya. Tapi setelah beberapa lama, saya merasa perlu belajar food photography yang benar supaya tidak memotret makanan seperti amatir lagi. Bukan cuma makanannya, tapi juga penataannya di meja, dan apa yang paling menonjol dari makanan itu. Orang harus bisa melihatnya dan merasa lapar karenanya. Foto makanan yang menggiurkan. Kalau tidak bisa masak, setidaknya belajarlah memotret makanan yang bisa kelihatan enak :)

7. Model massal

Ini adalah kebiasaan banyak sekali fotografer di sini. Menyewa satu model untuk difoto ramai-ramai di sebuah lokasi. Akhirnya semua orang jadi memotret hal yang sama. Bagaimana caranya membuat satu orang model mau mendengar arahan dari masing-masih fotografer? Susah, kan? Akhirnya modelnya bergaya begini, begitu, dengan pose-pose yang sudah dia hafal di luar kepala dan jadi sangat biasa. Memang banyak yang hasil fotonya luar biasa karena jago mengambil sudut. Selebihnya biasa saja. Lebih baik, kalau kamu suka porrtrait dan model, carilah teman dekat yang bisa membantu. Kamu bisa mengarahkannya dengan lebih personal, kamu bisa memilih gaya dan pencahayaan yang sesuai dengan mood yang kamu suka, kamu bisa mendapatkan ekspresi yang ‘mahal’ karena hanya kamu yang punya.
 
 

Copyright © 2013. Info Photography - All Rights Reserved

powered by Blogger